Feeds:
Posts
Comments

KEHIDUPAN 3-D
(Living A 3-Dimentional Life)

Taking the high road is usually not the easy one to take or the most popular. The low road seems to offer instant satisfaction. It may seem better for the moment, but if you compromise your principles and your integrity, it will always end up costing you far more in the long run – Billy Cox

Revolusi dalam dunia audio visual begitu luar biasa hari-hari ini. Masyarakat kita mulai diperkenalkan dengan televisi kualitas HD (High Definition), yang jauh lebih tajam dan bagus daripada siaran biasa. Begitu juga dengan dunia tayangan bioskop, dari tayangan 2-D (dua dimensi) sekarang mulai diperkenalkan tayangan film untuk 3-D (tiga dimensi). Kalau selama ini, sebuah tayangan visual ditayangan hanya pada sebuah layar dengan dimensi panjang dan lebar, sekarang dengan bantuan optik dan pencahayaan, maka sebuah tayangan visual dapat ditampilkan dengan dimensi panjang, lebar, dan tinggi (3-Dimensi).
Demikian pula dengan kehidupan, selama ini ada begitu banyak segi kehidupan hanya berkutat pada “tekhnologi kehidupan” 2-D, artinya hidup seringkali hanya berkutat pada dua sisi saja: menang atau kalah, kaya atau miskin, benar atau salah, merdeka atau menjadi budak, caramu atau caraku, dan lain sebagainya. Bagaimana kalau hidup tidaklah sama dengan sebuah tayangan pada layar flat (datar) 2-D saja, tapi hidup adalah sebuah kehidupan 3-D (tiga dimensi)???

1. Not my way, not your way, but “other way” (Bukan Caraku, Bukan Caramu, Tapi “Cara Yang Lain”) – Power of SINERGY

Dalam sebuah konflik antara dua pihak ketika sudah melibatkan kepentingan, keinginan, keegoisan masing-masing pihak, biasanya konflik tersebut akan sulilt untuk diselesaikan, bukan karena tidak ada solusi, tetapi karena tidak ada yang mau mengalah dan melepaskan keegoisan dirinya, kalau bukan cara-KU yah pasti pakai cara-MU. Ada yang berkata, “Kemarahan memulai sebuah pertengkaran, tetapi kesombonganlah yang membuat orang itu tetap tinggal dalam pertengkaran.” KESOMBONGAN, kalau bukan caraku yang benar, yah caramu yang benar. Kalau bukan aku yang menang, yah kamu yang menang. Pemikirannya selalu dua sisi (2-Dimentional thinking). Mungkinkah hidup bukan hanya soal saya atau kamu, tapi bisa saja soal “kita atau orang lain”? hidup tidak harus dua dimensi, hidup tiga dimensi.

Ia menyuruh memanggil Barak bin Abinoam dari Kedesh di daerah Naftali, lalu berkata kepadanya: “Bukankah TUHAN, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dengan membawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama-sama dengan engkau, dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu.” Jawab Barak kepada Debora: “Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju.” Kata Debora: “Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.” Lalu Debora bangun berdiri dan pergi bersama-sama dengan Barak ke Kedesh.
Hakim-hakim 4:6-9

Ketika Debora sebagai hakim Israel hari itu memerintahkan Barak untuk maju mengalahkan panglima Sisera, Barak justru mengajak Debora ikut serta dalam pertempuran yang sebenarnya ditentukan bagi Barak. Debora mau, hanya dengan satu syarat “TUHAN akan menyerahkan kehormatan itu ke dalam tangan seorang perempuan.” Berkali-kali saya menemukan bahwa banyak orang berpikir “perempuan” yang dimaksud oleh Debora adalah, Debora sendiri. Ternyata bukan! Perempuan yang dimaksud oleh Debora adalah Yael, seorang ibu rumah tangga biasa (Hakim 4:21). Saya merenungkan kenapa banyak orang, termasuk saya dulu, sudah berasumsi lebih dulu bahwa perempuan yang “mengambil” bagian kehormatan Barak adalah Debora? Sebab cara berpikir kita adalah cara berpikir 2-D. Kalau bukan Barak, yah Debora. Kalau bukan saya, yah kamu yang menang! Tuhan menunjukkan bahwa hidup bukan hanya 2-Dimensi, hidup adalah 3-Dimensi. Ada cara yang ketiga, “cara yang lain”, sebuah sinergi antara cara Debora dan cara Barak, menghasilkan cara Yael.

Kita pernah mendengar bahwa apa yang dilakukan oleh DUA ekor kuda SEPULUH KALI LIPAT dari apa yang dapat dilakukan oleh SEEKOR kuda. Power of Sinergy. Kekuatan karena sebuah sinergi, sebuah kebersamaan. Tidak harus kita berpikir kamu menang ATAU saya yang menang, mengapa kita tidak mau berpikir DUA-DUANYA yang menang (win-win solution)? Kenapa harus saling menyalahkan, mengapa kita tidak bersatu? Mengapa harus saling berdiri sendiri-sendiri, mengapa kita tidak saling menopang? Mungkin orang lainlah yang mendapatkan keuntungan terbesar, seperti Yael, tapi kita kan sudah turut menjadi saluran berkat bagi mereka juga. IF you can’t be a King, than be a King-maker! Kalau kita tidak bisa menjadi raja, jadilah orang yang menjadikan orang lain sebagai raja! Yusuf bukan raja, tapi Yusuf adalah King-maker; Daniel bukan raja, tapi Daniel adalah King-maker! Ketika Yusuf bersinergi dengan Firaun, Mesir menjadi bangsa yang besar. Ketika Daniel bersinergi dengan Nebukadnezar, Babel (Koresh) menjadi bangsa yang besar, ketika Ester bersinergi dengan Hegai, sida-sida raja, Ester berhasil menjadi permaisuri dan Hegai menjadi orang kepercayaan. Kalau bisa bersama-sama, kenapa harus saling menghancurkan? Power of Sinergy!

2. Not my way, not your way, but “God’s way” (Bukan Caraku, Bukan Caramu, tapi “Caranya Tuhan”) – The Power of WISDOM

Judul buku Zig Ziglar, “God’s Way Is Still The Best Way”, adalah judul buku yang sangat memberkati hidup saya. Cara Tuhan Tetap Cara Yang Terbaik!

Hidup 3-D (tiga dimensi) kedua yang perlu kita perhatikan adalah, hidup dengan cara berpikirnya Tuhan, hidup dengan HIKMAT. Kisah yang paling tepat mungkin adalah kisah pengadilan Raja Salomo. Suatu kali Raja Salomo yang berhikmat kedatangan dua orang wanita yang membawa dua orang bayi kecil, yang satunya mati dan yang satunya hidup. Kedua orang ibu ini memperebutkan bayi yang masih hidup tersebut, masing-masing bersikeras bahwa bayi tersebut adalah anak mereka. Disini kita menemukan sebuah kisah dimana, tidak mungkin kedua orang ibu tersebut bisa BERSINERGI, berjalan bersama-sama. Oleh sebab itu ketika kita tidak bisa mengambil jalan SINERGI, kita harus bisa mengambil cara 3-D yang kedua yaitu, Power of Wisdom. Kekuatan HIKMAT.

Kata raja: “Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain.” Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: “Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia.” Tetapi yang lain itu berkata: “Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!” Tetapi raja menjawab, katanya: “Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya.” Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.
I Raja-raja 3:25-28

Ketika Salomo berhadapan dengan dua orang ibu yang memperebutkan seorang bayi yang masih hidup, ibu yang berbohong berusaha untuk mengontrol raja Salomo lewat kelicikannya. Dia berusaha untuk mengintimidasi Salomo. Tapi Salomo yang memiliki hikmat, tidak merendahkan dirinya dengan membiarkan dirinya dikendalikan oleh keadaan. Dia memberikan jalan keluar diluar dari perkiraan semua orang, dan “melakukan keadilan”.

Hikmat adalah cara Tuhan untuk melakukan keadilan! Artinya hikmat adalah cara Tuhan untuk mengembalikan segala-sesuatu pada pemiliknya yang sebenarnya. Hikmat memotong dengan jelas antara dusta dan kebenaran, antara kemunafikan dan kejujuran, hikmat mengembalikan “sang bayi” pada pemilik yang sesungguhnya, sang ibu yang benar. Demikian pula hikmat mengembalikan Anda dan saya pada pemilik yang sesungguhnya, pada Tuhan. Hikmat menaruh kita pada pelukan kebenaran! Kejujuran adalah hikmat. Kesetiaan adalah hikmat. Kekudusan adalah hikmat. Pengampunan adalah hikmat. Kasih adalah hikmat. Keyakinan yang benar adalah hikmat. Pengharapan adalah hikmat. Suami mengasihi istri dan istri menghormati suami, adalah hikmat!!! Hikmat menaruh kita kembali pada pelukan kebenaran dari pemilik kita yang sesungguhnya, Pencipta alam semesta, Yesus Kristus. Hikmat menaruh kita pada tempat teraman di seluruh alam semesta, yaitu di dalam Kristus, Tuhan. God’s way, is still the best way!

3. Not my way, not your way, but “higher way” (Bukan Caraku, Bukan Caramu, Tapi “Cara Yang Lebih Tinggi”) – The Power of MERCY

Ketika Yesus, Sang Guru, mengajarkan mengenai “jalan yang sempurna / tinggi”, Dia mengajarkan mengenai hukum-hukum yang mengedepankan BELAS KASIHAN (mercy).

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
Matius 5:38-42

Dalam teladan hidup-Nya sendiri, Sang Guru kehidupan, menunjukkan begitu banyak hal yang Dia lakukan sebenarnya dimotivasi oleh belas kasihan. Dia menyembuhkan orang, Dia memeluk orang kusta, Dia menumpang di rumah Zakheus, Dia membangkitkan Lazarus, Dia membela wanita yang akan dirajam dengan batu sampai mati ketika kedapatan berzinah, dan masih banyak lagi; semuanya itu dilakukan karena satu hal: BELAS KASIHAN. A HIGHER WAY, MERCY!

Mercy is always at the CENTER of Christ’s Life. Belas kasihan selalu menjadi berada di TENGAH-TENGAH (pusat) kehidupan Yesus. Renungkan, tabut Perjanjian orang Israel, persis di tengah-tengah tutupnya, dimana Shekinah Glory itu turun, dinamakan: “mercy seat” (tempat belas kasihan bertahta). Tahta-Nya Tuhan disebut, tahta belas kasihan. Persis di tengah-tengah. Pusat kehidupan Yesus adalah: Belas kasihan!

“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Mikha 6:8

Coba Anda perhatikan urutan dari 3 hal yang dituntut TUHAN dari kehidupan seseorang, sebelah kanannya adalah, KEADILAN (to do justly); Sebelah kirinya adalah, KERENDAHAN HATI (to walk humbly); dan tengah-tengahnya adalah … KESETIAAN (to love mercy). Belas kasihan (mercy) selalu berada tepat ditengah-tengah kehidupan Yesus, dan seharusnya also at the center of our life!

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
Matius 23:23

Lihat apa yang dikatakan Yesus sekali lagi, keadilan (judgement) dan belas kasihan (mercy) dan kesetiaan (faith). Apa yang ada ditengah-tengah? Belas kasihan. Power of Mercy.

Apakah pusat dari kehidupan Anda? Apa yang mendorong Anda melakukan pekerjaan Anda, membangun rumah tangga Anda, melayani orang lain? Apakah kebencian, keserakahan, keinginan untuk berhasil, iri hati, dendam, ketakutan, rasa malu… ataukah BELAS KASIHAN?

Sang Guru Agung kita menawarkan sebuah kehidupan 3-D (tiga dimensi) yang berpusat bukan pada diri sendiri, tetapi pada “tahta Tuhan” sendiri, yaitu: Belas kasihan!

Kerjasama (sinergy), Hikmat (wisdom), dan Belas kasihan (mercy)… Kehidupan 3-D

Salam kehidupan!

Advertisements

What Drive Your Life

WHAT DRIVE YOUR LIFE?
(Apa Yang Mengendalikan Hidup-mu?)

“The Life You Live is A Legacy You Leave!”
(Hidup yang kita hidupi adalah warisan yang kita tinggalkan!)

“Kebetulan Absalom bertemu dengan orang-orang Daud. Adapun Absalom menunggangi bagal. Ketika bagal itu lewat di bawah jalinan dahan-dahan pohon tarbantin yang besar, tersangkutlah kepalanya pada pohon tarbantin itu, sehingga ia tergantung antara langit dan bumi, sedang bagal yang dikendarainya berlari terus.”
2 Samuel 18:9

Siapa Yang Memegang Kendali Hidupmu?
Manusia dikendalikan bukan oleh dirinya sendiri! Manusia dikendalikan oleh keinginan-keinginan, dikendalikan oleh keyakinan-keyakinan, perasaan yang ada, kepentingan, dan lain-lain. Tragedi terbesar dalam kehidupan adalah ketika kita hidup untuk diri sendiri dan mati untuk diri sendiri.

“Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri.”
Roma 14:7

Kisah akhir hidup Absalom menarik untuk dipelajari, terutama ketika kita menemukan bahwa Absalom diakhir hidupnya “menunggangi bagal”, tetapi kemudian dikatakan bahwa sekalipun Absalaom menaiki dan memegang kendali si bagal, tapi penentu jalan lari Absalom bukanlah dia melainkan bagal yang dia tunggangi, “bagal itu lewat”. Ada banyak kali kita berpikir kalau kitalah pemegang kendali, hanya pada akhirnya kita menemukan bahwa kitalah yang sebenarnya dikendalikan. Berapa banyak yang berpikir bahwa merekalah yang mengendalikan kebiasaan belanja mereka, tetapi besarnya tagihan kartu kredit menunjukkan bahwa sesungguhnya merekalah yang dikendalikan oleh kebiasaan belanja mereka. Belum lagi tentang kebiasaan makan, rokok, alkohol, kemalasan, dll. Ada banyak Absalom hari ini, mereka yang menunggangi “bagal”, tapi “bagal”-lah yang mengendalikan mereka. Apakah “bagal” dalam hidup Anda??

“Binatang” Yang Mengendalikan Hidup Absalom
Ada 3 “binatang” yang mengendalikan hidup Absalom, yaitu:

1. Kemarahan / Kebencian / Dendam
Hati seorang manusia tidak pernah kosong. Ketika seorang manusia kehilangan cinta dalam hidup ini, maka kebencian dengan serta-merta akan menggantikan cinta dalam hati, demikian juga dengan Absalom. Ketika adik Absalom, Tamar, diperkosa oleh Amnon, tanpa disadari hati Absalom sudah dikendalikan oleh “binatang” pertama, yaitu: KEBENCIAN.

“Dan Absalom tidak berkata-kata dengan Amnon, baik tentang yang jahat maupun tentang yang baik, tetapi Absalom membenci Amnon, sebab ia telah memperkosa Tamar, adiknya. Sesudah lewat dua tahun, Absalom mengadakan pengguntingan bulu domba di Baal-Hazor yang dekat kota Efraim. Lalu Absalom mengundang semua anak raja. “
Samuel 13:22-23

Kebencian tidak memerlukan ekspresi, tapi kebencian menuntut pembalasan! Sebagaimana Absalom tidak pernah menunjukkan kebenciannya dalam kata-kata, demikianlah kebencian seringkali bekerja dengan diam-diam menggantikan kemarahan dengan dendam dan dendam dengan pembalasan. Dua tahun penuh hati Absalom dikendarai bukan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh kebencian.

2. Kesombongan
Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika kebencian dan kemarahan kita pada seseorang kita lampiaskan, ternyata kebencian dan kemarahan itu tidak terpuaskan. Itu sebabnya pembalasan dendam tidak pernah menjadi solusi dari kebencian dalam hati. Pengampunan adalah obat paling manjur untuk sebuah kemarahan. Kebencian atas Amnon menimbulkan “binatang” kedua yang mengendalikan hidup Absalom, yaitu: KESOMBONGAN.

“Di seluruh Israel tidak ada yang begitu banyak dipuji kecantikannya seperti Absalom. Dari telapak kakinya sampai ujung kepalanya tidak ada cacat padanya. Apabila ia mencukur rambutnya–pada akhir tiap-tiap tahun ia mencukurnya karena menjadi terlalu berat baginya–maka ditimbangnya rambutnya itu, dua ratus syikal beratnya, menurut batu timbangan raja. Bagi Absalom lahir tiga orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, yang bernama Tamar. Ia seorang perempuan yang cantik. Setelah Absalom diam di Yerusalem genap dua tahun lamanya, dengan tidak datang ke hadapan raja, “
2 Samuel 14:25-28

Ternyata “keberhasilan” Absalom membalas dendam merupakan tidak cukup untuk menyudahi kebencian Absalom. Kebencian Absalom membutuhkan target baru, Daud. Kebencian juga berubah menjadi kesombongan.

“Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: “Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.”
Kejadian 4:23-24

Absalom mengambil dua hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh semua manusia. Dengan kebencian, dia mengambil hak Tuhan yaitu: pembalasan (Roma 12:19). Dengan kesombongan, dia mengambil hak Tuhan yang kedua, yaitu: pujian (Mazmur 100:4).

“Binatang” kesombongan ini, sama seperti kebencian, mengendalikan hidup Absalom dua tahun penuh. Dua tahun dalam puja-puji akan dirinya sendiri. Dua tahun merasa berhasil. Dua tahun dalam kesombongan!

3. Ambisi Untuk Menguasai Yang Merusak
Kebencian Absalom membuat dia membunuh Amnon, kesombongan Absalom membuat dia menghancurkan dan merendahkan Yoab (mungkin itulah salah satu penyebab mengapa Yoab begitu murka dan membunuh Absalom dikemudian hari sekalipun itu bertentangan dengan perintah Daud), tetapi tidak berhenti disana, Absalom kemudian dikendalikan oleh “binatang” ketiga, yaitu: AMBISI!

“Cara yang demikianlah diperbuat Absalom kepada semua orang Israel yang mau masuk menghadap untuk diadili perkaranya oleh raja, dan demikianlah Absalom mencuri hati orang-orang Israel. Sesudah lewat empat tahun bertanyalah Absalom kepada raja: “Izinkanlah aku pergi, supaya di Hebron aku bayar nazarku, yang telah kuikrarkan kepada TUHAN. “
2 Samuel 15:6-7

Kebencian, membuat Absalom mengambil hak Tuhan: pembalasan. Kesombongan, membuat Absalom mengambil hak Tuhan: pujian. Ambisi, membuat Absalom mengambil hak Tuhan yang ketiga: HATI bangsa milik Tuhan.

“Binatang” Ambisi ini mengendalikan hidup Absalom selama empat tahun penuh. Pemberontakan terjadi, Absalom menang, tapi kemudian dikalahkan oleh tentara-tentara Daud dan pada akhirnya mati akibat hidupnya dikendalikan oleh seekor bagal! Sungguh, tidak ada gambaran yang paling tepat untuk menceritakan hidup Absalom selain, Absalom mati karena selama hidup dia mengendarai binatang yang tidak dapat dia kendalikan.
Bagaimana dengan Anda, apakah Anda akan bernasib seperti Absalom? Hidup-mu dikendalikan oleh apa?

Mari kita lihat sejenak apa yang terjadi dengan hidup Absalom SELAMA dia berkuasa menjadi raja Israel, apa yang sudah dia perbuat bagi bangsa Israel?

“Sewaktu hidupnya Absalom telah mendirikan bagi dirinya sendiri tugu yang sekarang ada di Lembah Raja, sebab katanya: “Aku tidak ada anak laki-laki untuk melanjutkan ingatan kepada namaku.” Dan ia telah menamai tugu itu menurut namanya sendiri; sebab itu sampai hari ini tugu itu dinamai orang: tugu peringatan Absalom.”
2 Samuel 18:18

Absalom hidup bagi dirinya sendiri, dan ketika dia hidup bagi dirinya sendiri, dia mendirikan sebuah tugu untuk dirinya sendiri, sebab “… tidak ada anak laki-laki untuk melanjutkan ingatan kepada namaku.” Tragedi kehidupan adalah ketika seorang manusia hidup untuk diri sendiri dan mati untuk diri sendiri. Tidak ada legacy (warisan) untuk ditinggalkan. Tidak ada anak laki-laki. Sebentar, tidak ada anak laki-laki?? Coba lihat 2 Samuel 14:27,

“Bagi Absalom lahir tiga orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, yang bernama Tamar. Ia seorang perempuan yang cantik.”

Ada TIGA ANAK LAKI-LAKI yang lahir bagi Absalom! Mengapa Absalom berkata, “tidak ada (satupun) anak laki-laki…”? Saya pribadi tidak tahu kemana anak-anak laki-laki Absalom, apakah mereka sudah mati waktu dia menjadi raja ataukah mereka dianggap tidak pantas dan layak untuk menggantikan dia, tapi yang pasti hari ini kita menemukan ada seseorang yang hidup mengorbankan segalanya untuk mencapai kekuasaan tertinggi, tapi dipuncak itu semua hidupnya kosong. The life you live is the legacy you leave! Ketika hidup kita kosong, warisan yang kita tinggalkan juga kosong.

Sebagaimana Daud “kehilangan” Absalom karena tindakannya yang tidak tegas terhadap dosa dan kesalahan Amnon, demikian pula Absalom kehilangan ketiga anak laki-lakinya karena tindakan pemberontakannya terhadap ayahnya, Daud. Orang tua mengecewakan anak dan anak yang memberontak terhadap orang tua, menghasilkan hasil yang sama: kehancuran!

When we start wrongly and purposed for a wrong things, we ended up left nothing for the eternity. Ketika kita memulai dengan salah dan bertujuan untuk mencapai sesuatu yang salah, kita akan mengakhiri hidup kita dengan “tidak ada apa-apa” yang bisa diwariskan untuk kekekalan. DALAM KERAJAAN SURGA, HANYA KEBENARANLAH YANG AKAN MENINGGALKAN JEJAK KEKEKALAN!
Salam Kehidupan.

BE PERFECT!

Be Perfect!
“You can’t live a perfect day without doing something for someone who will never be able to repay you.” John Wooden

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
Matius 5:48

Kekudusan ataupun kesempurnaan adalah 2 (dua) kata yang sungguh sulit untuk diajarkan sekaligus menjadi momok yang menakutkan bagi orang-orang yang religius sekalipun. Kata “orang kudus” atau “orang suci” seakan-akan berarti seseorang yang tidak melakukan hal-hal dosa dan duniawi; dan kata “orang yang sempurna” adalah seorang superman yang bisa melakukan segala-galanya.
Hari itu Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan sangkaan orang banyak. Ada 3 (tiga) poin penting mengenai kesempurnaan, yaitu:

1. Kesempurnaan adalah TINDAKAN (a state of doing)

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”
Matius 5:44-45

Lebih dari sangkaan banyak orang, sebuah kehidupan yang suci atau kudus bukanlah sebuah kehidupan yang dibatasi dengan banyaknya aturan-aturan dan larangan-larangan. Banyak orang melihat jalan untuk menemukan Tuhan adalah jalan dengan beribu-ribu larangan dan aturan, padahal tidak.
Peristiwa taman Eden menunjukkan hal ini, perhatikan bahwa Tuhan tidak melarang segala-galanya, Dia justru membebaskan manusia untuk memakan dengan bebas kecuali buah dari 1 pohon. Jadi tidak benar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang kaku dan pemarah yang melarang ini dan itu, Dia adalah Tuhan yang penuh dengan kemerdekaan. Larangan itu diberikan oleh Tuhan sebab kebebasan yang mutlak adalah kebebasan yang merusak!

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”
Kejadian 2:16-17

Kesempurnaan tidak datang dari larangan-larangan (a state of NOT-DO-ing), tetapi dari tindakan-tindakan yang benar! (state of DO-ing). Paulus menggambarkan state of doing ini dengan 3 tingkatan:

“Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.”
Efesus 4:28

Perubahan hidup menuju kesempurnaan itu menempuh tiga percabangan besar: pertama, berhenti melakukan (stop doing) yang tidak benar (“janganlah ia mencuri lagi…”). Kedua, mulai lakukan (start doing) apa yang benar (“… baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik…”). Dan yang terakhir, lakukan segalanya untuk kemuliaan Tuhan (doing it for the Glory), untuk sebuah nilai hidup yang lebih besar dari pada ke-egoisan pribadi (“… supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan”).

Stop doing – start doing – doing it for The Glory, for the higher purpose.

Jadi, jelas sekali kalau kesempurnaan bukanlah hanya berhenti melakukan hal-hal yang tidak patut, state of not-doing, bukanlah sebuah kegiatan pasif, tetapi justru sebuah kegiatan yang aktif. Kesempurnaan dan kekudussan tidaklah menjadikan kita pertapa-pertapa di atas gunung yang suci, tetapi menjadikan kita orang-orang yang bekerja dan mengubahkan dunia!

2. Kesempurnaan adalah tindakan yang lahir dari PEMIKIRAN (a state of thinking)

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?”
Matius 5:45

Tetapi sebelum Yesus berbicara mengenai keadaan dari sebuah tindakan (a state of doing), Dia mengajak para pendengarnya berpikir sejenak. Kenapa? Karena tindakan itu lahir dari cara berpikir seseorang (a state of thinking).

Kata “pertobatan” dalam bahasa Yunani dipakai kata “metanoia”. Metanoia, tidaklah berarti perubahan gaya hidup, bukan juga tentang perubahan sebuah tindakan, bukan juga tentang perubahan sebuah keputusan, TETAPI berbicara tentang perubahan cara berpikir.

“1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. 3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”
Roma 12:1-3

Cara berpikir seseorang memiliki 3 (tiga) fungsi yang sangat penting:
penentu tindakan (ay.1);
pengambil keputusan (ay.2) ; dan
penyeimbang emosi, penguasaan diri (ay.3).

Tidak heran, ketika Yesus sebelum menyuruh untuk melakukan sebuah kebenaran yang seringkali berlawanan dengan tindakan-tindakan orang masa itu dan bahkan masa kini, Sang Guru menyuruh kita untuk merubah, menyesuaikan “frekuensi” cara berpikir kita dengan paradox kebenaran. Ketika orang lain mendambakan dendam, Yesus mengajarkan pengampunan (Mat. 5:24-25). Ketika orang banyak menganggap kemarahan adalah sesuatu yang biasa, Yesus menganggapnya sebagai sesuatu yang mematikan (Mat. 5:22). Bagi orang lain fantasi seksual terhadap seorang wanita adalah bagian dari pembawaan alami seorang pria dewasa, tapi Yesus tidak! (Mat. 5:27-32). Bagi orang lain, perceraian adalah solusi mudah dari pertengkaran rumah tangga, tapi bagi Yesus perceraian bukanlah solusi atas ketimpangan rumah tangga, pengertian dan penerimaan-lah solusi atas ketimpangan rumah tangga (Mat. 5:31-32). Belum lagi soal janji (Mat. 5:37). Belum lagi soal pembalasan (Mat. 5:38-42), dan banyak hal lainnya. Bagaimana kita bisa melakukan kebenaran kalau rasionalitas (cara berpikir) kita tidak setuju dengan cara berpikir Sang Kebenaran? Mental-mental “goblok” inilah yang mesti kita “perangi” (2 Kor. 10:5-6) dan kalahkan dari kehidupan setiap orang yang mencari kebenaran.

Ketika kita diangkat menjadi Anak Allah, eh mental kita seperti pengemis. Ketika kita dijanjikan menjadi pemenang, eh mental kita ornag pengecut! Ketika Dia menjadikan kita orang-orang kudus, eh kelakuan kita seperti preman-preman pinggiran jalan, seperti “babi yang kembali pada kubangan” saja! Mental (cara berpikir) kita harus berubah terlebih dahulu sebelum, tindakan kita berubah.

3. Kesempurnaan adalah tindakan yang lahir dari pemikiran suatu PRIBADI yang sejati (a state of being)

Tapi sebelum Yesus berbicara tentang perubahan cara berpikir (a state of thinking), Dia mengingatkan kita pada hubungan kita dengan Dia.

“43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Matius 5:43-44

Penting untuk mengetahui bahwa “firman”, huruf yang mati, perintah-perintah keagamaan tidak dapat mengubah hidup dan cara berpikir seseorang. Revelation comes from Relationship! Pewahyuan (perubahan cara berpikir) itu datang dari sebuah interkoneksi atau hubungan dengan seseorang.

“Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku (RELATIONSHIP), ia telah melihat (REVEAL) Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.”
Yohanes 14:9

Ravi Zacharias merangkum hal mengenai kesempurnaan ini dengan sangat baik ketika dia berkata:
Holiness is not the absence of somethings but about the presence of Someone.
Kekudusan bukanlah terjadi dengan tidak melakukan beberapa hal yang tidak pantas, tetapi tentang kehadiran Seseorang.

Kesempurnaan dan Kekudusan adalah bagaimana berjalan bersama dan memiliki hubungan bersama dengan Dia. Tanah tempat perjumpaan antara Musa denga Tuhan di semak belukar bernyala-nyala, menjadi kudus bukan karena itu tanah yang spesial, tetapi karena Tuhan hadir disana. Tabut Allah menjadi kudus dan sempurna, bukan karena itu terbuat dari emas, tetapi itu menjadi kudus dan sempurna karena Tuhan ada disana. Demikian juga dengan Anda dan saya, “is not about the absence of things, but because the presence of Someone!” (Bukan karena kita tidak melanggar hukum-hukumNya, tetapi karena kehadiran Satu Pribadi.)

Salam Kehidupan!

Unlocking The Power of Perspective
(Membuka Rahasia Cara Pandang)

“The belief that one’s own view of reality is the only reality is the most dangerous of all delusions.” (Mempercayai bahwa cara seseorang memandang sebuah kenyataan sebagai satu-satunya kenyataan, adalah bahaya terbesar dari semua penipuan.”
Paul Watzlawick

Sebuah Janji Yang Terlupakan

“Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya…”
Kejadian 13:14-15

“Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah … sebab (apa) yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.” Bukankah ini adalah sebuah pembukaan yang luar biasa? If you can see it, you can get it. Kalau engkau bisa melihatnya, maka engkau bisa mendapatkannya.
Seperti seorang arsitek bangunan, sebelum dia bisa membangun dan membuat sebuah bangunan, maka hal pertama yang harus dia lakukan adalah membuat gambaran denah (blue-print) dari bangunan itu sendiri. Tetapi sebelum dia menggambar sebuah blue-print bangunan tersebut, maka hal pertama yang harus dia lakukan lebih dulu melihat gambaran bangunan tersebut di dalam pemikirannya. Jadi bangunan yang kita lihat hari ini adalah hasil dari gambaran bayangan dari pemikiran apa yanga da di dalam benak seseorang.
Demikian pula dengan kehidupan. Apa yang Anda lihat disekeliling Anda, sebenarnya berasal dari apa yang ada dalam pikiran Anda – impian, cita-cita, keyakinan, nilai-nilai, kerinduan hati, dll. – Kursi yang kita duduki adalah karya cipta dari seseorang, tapi karya cipta itu hanyalah hasil nyata dari sebuah gambaran yang ada di dalam isi pikiran seseorang. If you can see it, you can get it. Kalau engkau bisa melihatnya, maka engkau bisa mendapatkannya.
Patung dan karya seni yang kita lihat hari ini, semuanya adalah hasil atau refleksi dari apa yang ada di dalam benak sang seniman. Ada kisah bagaimana Michelangelo, seniman jenius, menghentikan pekerjaannya untuk melukis the creation of Adam (Penciptaan Adam) di Kapel Sistina, untuk mencari inspirasi bagaimana memberi “bentuk” pada sebuah karya maha agung penciptaan manusia. Michelangelo naik ke atas bukit-bukit sambil memandang awan-awan di langit sepanjang waktu, sampai ia mendapatkan sebuah inspirasi tentang penciptaan Adam, barulah dia dapat kembali melukis loteng kapel dengan sebuah maha karya seni sampai hari ini. Tanpa inspirasi, tidak ada lukisan! If you can see it, you can get it. Kalau engkau bisa melihatnya, maka engkau bisa mendapatkannya.

Tiga Cara Pandang
Dalam Alkitab dikemukakan bahwa ada 3 (tiga) cara pandang (perspective) yang berbeda dalam hidup seseorang.

Pertama, adalah cara pandang yang sempit (short-sight),

“Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.”
2 Petrus 1:9

Cara pandang yang sempit atau picik (short-sight), adalah cara pandang yang selalu melihat hasil baru percaya. Kalau tidak melihat sendiri, belum tentu mau percaya. Kalau tidak dipegang, belum tentu mau percaya. Kalau telinga ini tidak mendengar sendiri, belum tentu mau percaya. Contoh yang paling jelas adalah: Tomas. Tomas berkata kalau tangan ini belum dicucukkan ke tangan Tuhan Yesus yang berlubang paku, sekali-kali aku tidak akan percaya. Sampai ketika Tuhan Yesus menampakkan diri di depan Tomas sambil menunjukkan tangan-Nya yang berlubang paku, barulah dia mau percaya. Percaya kalau lihat hasil.

Cara pandang kedua adalah, cara pandang yang jauh ke depan (fore-sight),

“Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.”
Lukas 15:20

Cara pandang yang jauh ke depan (fore-sight) adalah cara pandang yang memandang pada potensi. Contohnya, Steve Jobs. CEO dari Apple Inc. ini mengundurkan diri 6 minggu sebelum meninggal dunia. Dalam sebuah wawancara, Steve ditanya oleh wartawan apakah dia tidak takut apabila Apple Computer akan kehilangan arah tanpa kehadirannya. Steve Jobs kemudian menjawab bahwa dia percaya penuh Apple akan bertahan bahkan tidak akan mengubah apapun secara mendasar selama 10 sampai 15 tahun ke depan bahkan tanpa kehadirannya, sebab Steve meyakinkan bahwa dia membangun dasar perusahaan Apple dengan memandang 10 sampai 15 tahun yang akan datang. Tidak mengherankan kalau Steve Jobs dianggap sebagai Genius of the Decade.

Cara pandang yang ketiga adalah cara pandang yang mendalam (insight),
akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus,
Efesus 1:16-18

Cara pandang yang mendalam (insight) adalah cara pandang yang memandang hati seseorang. Sebab, dari dalam hati seseoranglah “… terpancar kehidupan.” (Ams. 4:23). Cara pandang mendalam adalah sebuah cara memandang yang bukan berasal dari mata jasmani (cara pandang sempit), ataupun dari sebuah intuisi dan prediksi yang tajam (cara pandang jauh), melainkan berasal dari sebuah pewahyuan (revelation), muncul dari sebuah kedalaman hati, sebuah visi yang berasal dari pengetahuan supranatural.
Raja Daud pernah berkata, “Sesungguhnya Engkau memberitahukan hikmat dalam batin-ku.” (Maz. 51:8).
Mengenai Petrus, Tuhan Yesus pernah berkata, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat. 16:17). Itulah Insight, sebuah pandangan mendalam, sebuah pewahyuan.

Pandangan sempit selalu melihat hasil, pandangan jauh ke depan selalu melihat potensi, tapi pandangan mendalam selalu melihat hati.

Orang yang pandangannya sempit adalah orang yang percaya ketika sudah terjadi, tetapi orang yang pandangan jauh ke depan adalah orang yang percaya sekalipun belum terjadi, tetapi orang yang pandangannya mendalam adalah orang yang percaya sekalipun tidak ada orang yang bisa percaya.

Orang yang berpandangan sempit adalah orang yang hidup dalam penyesalan, sebab orang ini selalu kehilangan kesempatan. Sementara orang yang pandangannya jauh adalah orang yang hidup dengan sebuah ekspektasi atau harapan, sebab orang ini adalah orang yang mengenali kesempatan. Tetapi orang yang pandangannya mendalam adalah orang yang hidup dengan iman, sebab orang yang berpandangan mendalam adalah orang yang menciptakan kesempatan.

Mereka yang berpandangan sempit adalah mereka yang mengetahui apa yang diketahui oleh semua orang, mereka yang berpandangan luas dan jauh ke depan adalah mereka yang mengetahui apa yang diketahui hanya oleh sedikit orang, tetapi mereka yang berpandangan mendalam adalah mereka yang mengetahui apa yang tidak diketahui oleh seorang pun.

Mereka yang berpandangan sempit adalah mereka yang ada di dalam dunia orang-orang penakut (world of the fearful), mereka yang memiliki cara pandang jauh ke depan adalah mereka yang ada di dalam dunia orang-orang yang berani (world of the courages), dan mereka yang memiliki cara memandang ke dalam (insight) adalah mereka yang ada di dalam dunia orang-orang yang aneh world of uncanny).
Saya pribadi suka definisi dari “uncanny”, menurut Collins English Dictionary
a : sepertinya memiliki karakter atau asal-mula yang supernatural: misterius
b : keberadaanya melampaui apa yang normal atau yang diharapkan : mungkin dapat disebut superhuman (manusia super) atau memiliki kekuatan supernatural

Wow!!! Anda adalah orang biasa (orang yang cara pandangnya sempit, short-sight), atau Anda adalah orang yang pemberani dan jenius (karena Anda orang yang berpandangan jauh ke depan, fore-sight), atau Anda adalah orang yang “uncanny”, supranatural, karena Anda adalah orang yang berjalan dalam pewahyuan, insight, informasi-informasi rahasia dari Surga sebab hidup Anda dituntun oleh rhema, tuntunan Firman Tuhan??

Failure: Tears and Joy In Life
(Kegagalan: Suka dan Duka Dalam Kehidupan)
“Ketika hidup sudah bukan lagi masalah menang atau kalah, berhasil ataupun gagal; melainkan soal kebermaknaan dan kemuliaan, baru pada saat itulah bahkan kematian tidak lagi menakutkan.”

Failure is not an option, it is a certainty of life. Saya pribadi tidak bisa menemukan kata-kata yang lebih baik untuk memulai sebuah pembahasan mengenai kegagalan daripada kalimat tadi, “Kegagalan bukanlah sebuah pilihan hidup, kegagalan adalah sebuah kepastian hidup”. Ada begitu banyak orang yang takut untuk menghadapi kegagalan dalam hidup ini, tetapi beberapa orang yang benar-benar luar biasa justru adalah mereka yang menemukan kekuatan melalui kegagalan, sekalipun itu adalah pengalaman yang menyakitkan.
“Tidak ada rahasia apapun dari sebuah keberhasilan. Keberhasilan hanyalah hasil dari sebuah persiapan, kerja keras, dan kesediaan untuk belajar dari kegagalan.”
Colin Powell , mantan Panglima Angkatan Bersenjata AS (1989-1993); Mantan US Secretary of State pada pemerintahan George W. Bush.

“Keberhasilan membangun karakter, tetapi kegagalan menyatakan karakter orang tersebut.”
Dave Checkett, Pemilik SCP Worldwide; dewan komisaris Jet-Blue Airways; pemilik klub sepakbola Real Salt Lake

Tetapi kita menyadari dengan sangat, bahwa untuk bisa menang menghadapi kegagalan kehidupan kita tidaklah mudah. Sebab ada 3 (tiga) hal yang membuat kegagalan begitu menakutkan. Setiap kita yang berhadapan dengan kegagalan kita harus berhdapan dengan: akibat dari kegagalan (the consequences of failure), rasa sakit dari kegagalan (the pains of failure), ketakutan akan kegagalan (the fears of failure).

“Apakah engkau mengasihi Aku?”
Yohanes 21:15-19
Kisah ini banyak diterima olehkita bahwa Tuhan Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus sebab Petrus pernah menyangkali Yesus sebanyak tiga kali juga. Tetapi saya pribadi lebih suka menyoroti bagaimana gejolak perasaan Petrus ketika dia harus berhadapan dengan Tuhan Yesus, bukan hanya sebagai Guru dan orang yang dikagumi, tetapi sekaligus sebagai sosok pribadi yang pernah dikhianati, disalahi, sekaligus menjadi sosok pribadi yang ditakuti sebab perjumpaan Petrus dengan Tuhan Yesus adalah gambaran dari kita semua yang harus berhadapan dengan kegagalan kita.

Berani menghadapi persoalan di dalam kita dengan jujur (the consequences of failure)
Kita sejak dari kecil, mulai berkenalan dengan rasa sakit baik dalam bentuk hukuman, pada waktu jatuh, luka, dan lain-lain. Sehingga kita tidak menginginkan rasa sakit, dan berusaha sebisa mungkin untuk menghindari rasa sakit tersebut. Kita mulai berdusta waktu kita salah, atau mulai belajar menyalahkan orang lain atas kemalangan kita. Semua itu adalah usaha manusia untuk menghindari konsekuensi dari sebuah kegagalan. Dan ketika kita beranjak dewasa, kita seringkali tidak mau jujur tentang kegagalan kita, sebab kita berusaha agar tidak menjalani konsekuensi / hukuman dari kegagalan tersebut.
Ketika kita berhadapan dengan kegagalan, apakah sebuah pengakuan diperlukan? Ya!!! Tapi, jauh lebih daripada sekedar sebuah pengakuan, dibutuhkan sebuah kejujuran untuk melihat akar dari sebuah kegagalan. Ketika kita menghindari konsekuensi dari sebuah kegagalan, maka kita tidak akan pernah belajar apapun dari peristiwa tersebut. Saya berhadapan dengan banyak orang yang berharap apabila mereka berdoa, puasa, memberi pada Tuhan, maka semua konsekuensi dosa mereka akan hilang dengan sendirinya. Hamil karena seks luar nikah, korupsi dan kemudian diperkarakan di pengadilan, kebohongan yang ketahuan. Ingatlah hal ini: ketika kita berbalik pada Tuhan, dosa kita diampuni; tetapi “buah dari dosa” harus tetap “dimakan”.

Berani meninggalkan kesakitan akan kegagalan masa lalu (the pain of failure)
Ketika kita gagal berhadapan dengan kesakitan kegagalan masa lampau kita, maka kita akan hidup berfokus pada masa lampaunya.
Setiap kali Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dia selalu mengingatkan Petrus untuk “menggembalakan domba-domba-Nya”. Sementara Petrus ketika mendengar pertanyaan itu ditanyakan sampai tiga kali, hal itu justru dianggap sebagai sindiran, penyiksaan batin, tanda ketidak-percayaan, dsb. Tapi bagi Sang Guru kehidupan itu sendiri, justru pengulangan pertanyaan adalah untuk membuat fokus Petrus berpindah dari masa lalu ke masa depan. Hidup tidak berakhir ketika Anda gagal, sebab masih ada yang bisa dikerjakan untuk hari besok, selalu ada tugas untuk diselesaikan.
Kenapa ada tugas? Bukankah mereka pernah gagal? Sederhananya Tuhan hendak mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang terjadi di luar kita, melainkan apa yang terjadi di dalam kita. Failures are not what happen to us, but something that happen in us.
“Menjadi miskin, bukanlah sesuatu yang memalukan; yang memalukan justru apabila kita malu dengan keadaan kita yang miskin.”
Benyamin Franklin
Oleh sebab itu selama di dalam hati tetap ada tekad untuk tidak menyerah dan untuk bangkit kembali berusaha, sesungguhnya kita tidak pernah gagal, kata pepatah, “seorang pemenang bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang tidak pernah menyerah.”

Berani menghadapi trauma akan kegagalan di hari besok (the fear of failure)
“The greatest barrier to success is the fear of failure” (Penghalang terbesar dari sebuah kesuksesan adalah rasa takut akan kegagalan)
Sven Goran Eriksson
Penghalang terakhir dari Petrus justru adalah ketika Tuhan Yesus menunjukkan masa depan Petrus yang justru SAMA dengan peristiwa masa lalu di mana Petrus pernah gagal. Petrus pernah menyangkali Sang Guru tiga kali, karena dia takut mati. Tapi sekarang, ketika dia mau bertobat, Sang Guru justru mengatakan bahwa,
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah.”
Yohanes 21:18
Sang Guru Kehidupan itu justru seakan-akan mengembalikan Petrus pada tempat dimana dia pernah gagal. Sama seperti Elisa yang melemparkan roti ditempat dimana mata kapak itu pernah jatuh, demikian pula Petrus harus kembali ketempat dimana dia pernah gagal, dan demikian juga setiap kita yang berkemenangan harus berhadapan dengan kegagalan kita.
Tapi selain memberitahukan tentang tantangan yang harus dihadapi Petrus di hari besok, Tuhan juaga memberitahukan “bagaimana Petrus akan mati DAN memuliakan Allah”. Saya rasa kalimat yang paling tepat menggambarkan dan menjelaskan ayat ini adalah kalimat yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi,

“Kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan saya pun adalah bagian dari berkat Tuhan, sama seperti keberhasilan-keberhasilan dan talenta-talenta yang saya miliki. Sebab kedua-duanya ku letakkan dibawah kaki-Nya.”
Mahatma Gandhi, bapak bangsa India

Pada akhirnya pertanyaan terbesar bukanlah berapa kali kita menang ataupun berapa kali kita kalah; tapi bagaimana setiap keberhasilan dan kemenangan, setiap kelemahan dan kegagalan kita letakkan di bawah kaki Tuhan dan menjadikan setiap pengalaman tersebut mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. Di saat itulah arti hidup bukan lagi sebuah hitungan skor kalah-menang, melainkan apakah hidup itu bermakna atau tidak bermakna.

Bagaimana dengan hidup Anda?

Salam kehidupan!

Living A Better Life

LIVING A BETTER LIFE
(MENJALANI HIDUP LEBIH BAIK)

“He who stops being better, stops being good” – Oliver Cromwell

Setiap orang – tidak peduli apakah dia adalah seorang yang kaya ataupun miskin, hidup senang ataupun susah – mengharapkan sebuah kehidupan yang lebih baik. Apakah itu pekerjaan yang lebih baik, keuangan yang lebih baik, pernikahan atau hidup rumah tangga yang lebih baik, hubungan sosial yang lebih baik, dll. Tetapi yang pasti adalah kerinduan itu ada dalam hidup semua orang, termasuk Anda dan saya. Semua ini terjadi sebab Tuhan memang menempatkan sebuah kerinduan dalam hati setiap orang untuk menemukan dan menghidupi sebuah kehidupan yang lebih baik ( living a better life ).

Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
Amsal 4:18

TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,
Ulangan 28:13

Kisah Bartimeus (Lukas 18:35-43)
Demikian pula dengan orang buta, yang bernama Bartimeus menurut Injil Markus, dalam kisah ini pun merindukan sebuah kehidupan yang lebih baik. Mari lihat keadaan orang ini,

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis.
Lukas 18:35

Ada 4 keadaan yang bisa kita lihat dalam hidup orang ini, pertama dia buta, sebuah cacat fisik atau sebuah keterbatasan jasmani. Mungkin kita bukanlah orang yang memiliki cacat fisik, tapi mungkin kita adalah orang yang secara jasmani terbatas, lingkungan keluarga yang membatasi, keberadaan pergaulan yang membatasi, ataupun hal-hal yang membatasi kita dalam banyak hal. Kedua, dia ada di luar kota Yerikho, berarti dia secara sosial tertolak. Dia bukan orang yang penting, dia bukan orang yang pintar, dia bukan orang yang berkuasa, dia adalah orang yang tertolak. Ketiga, dia ada dipinggiran jalan. Dengan kata lain dia adalah orang yang terpinggirkan, tidak dianggap, dipandang sebelah mata, tidak dihargai oleh orang sekitarnya, dia hanyalah seorang manusia yang terpinggirkan. Bahkan saya percaya Bartimeus adalah orang yang terpinggirkan bukan oleh orang lain, tapi bahkan oleh dirinya sendiri. Dia sudah lama berhenti untuk mencoba untuk berhasil dan mulai menyerah pada keadaan… dia sudah lama menyesali nasib… dia sudah lama hidup dalam rasa malu… dia sudah lama menolak dirinya sendiri. Yang terakhir, dia mengemis, dia hanyalah seorang miskin, tidak berguna, tertolak dan sudah pasrah dengan keadaan.

TETAPI, kalau perjumpaan Bartimeus ini dengan Yesus kelak mengubah hidupnya dengan begitu dahsyat, maka kita perlu belajar dari orang ini bagaimana dia mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Bartimeus melakukan 3 (tiga) hal yang sangat penting: dia tahu lebih banyak, dia berseru lebih keras, dan percaya dengan lebih baik.

DIA TAHU LEBIH BANYAK

Coba renungkan kisah ini baik-baik

Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: “Apa itu?” Kata orang kepadanya: “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”
Lukas 18:36-38

Kalau Anda menempatkan diri Anda dalam keadaan orang buta ini, maka Anda akan menemukan sebuah keanehan. Renungkan: ketika ada banyak orang lewat depan orang buta ini, dia pun bertanya pada salah satu orang yang lewat, “Apa itu?” Kata orang itu, “YESUS ORANG NAZARET lewat.” Lalu bangkitlah orang itu berdiri dan berseru… “YESUS, …” Siapa? “ANAK DAUD!” Kok bisa?

Ketika orang banyak berkata: “Yesus orang Nazaret”, berarti mereka mengetahui paling tidak di mana Yesus tinggal, di mana rumah-Nya, dan apa yang Dia perbuat. Tetapi, ketika orang buta ini memanggil “Yesus Anak Daud”, dia bukan hanya menunjukkan di mana Yesus tinggal dan berada, tapi dia menunjukkan bahwa dia tahu silsilah Yesus, dari mana Dia berasal. Secara sejarah masa lampau, orang buta ini tahu lebih banyak daripada yang diketahui oleh orang banyak. Bukan hanya itu, sebutan “anak Daud” adalah nubuatan nabi Yesaya tentang Raja diatas segala raja yang akan mendirikan sebuah Kerajaan tanpa kegelapan, tanpa dosa, tanpa kejahatan, tanpa malam, tanpa peperangan, tanpa penyakit, tanpa penindasan, tanpa rasa malu, tanpa perbudakan, sebuah Kerajaan yang penuh dengan kemuliaan, keberkatan, damai sejahtera, sukacita, persahabatan, penghargaan satu sama lain. Dia bukan hanya tahu bahwa Yesus berasal dari keturunan Daud, dia juga tahu bahwa Yesus adalah Raja yang melebihi Daud, yang akan datang membangun Kerajaan yang dia butuhkan untuk keluar dari kehidupannya yang penuh dengan penderitaan.

When you know better, you can believe better;
When you believe better, you can do better;
When you do better, you can live better.
(Ketika kita tahu lebih baik, kita bisa percaya lebih baik. Ketika kita percaya dengan lebih baik, kita bisa berbuat lebih baik. Ketika kita berbuat lebih baik, maka kita bisa menjalani hidup yang lebih baik.)

Pengetahuan adalah sesuatu yang sangat penting. Itulah sebabnya sebagai orang tua kita menyekolahkan anak-anak kita dengan harapan bahwa mereka bisa berbuat hal-hal yang lebih baik dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Pengetahuan dalam kehidupan bisa menolong kita dalam 3 (tiga) hal penting:

Knowledge helps us to MAKE A CHOICE (Pengetahuan menolong dalam membuat keputusan)
Pengetahuan menolong kita untuk memulai, sebab pengetahuan kita akan pilihan-pilihan yang harus diambil akan membuat kita lebih mudah untuk menentukan pilihan.

Knowledge helps us to GROW (Pengetahuan menolong kita untuk bertumbuh)
Pengetahuan bukan hanya membantu kita memulai, tetapi membantu kita untuk bertindak. Sebab ketika kita memiliki pengetahuan mengenai tujuan, sasaran dan tahap-tahap yang harus kita lewati, maka kita akan lebih mudah untuk memacu diri kita bertumbuh ke arah yang lebih baik.

Knowledge helps us to STAND STRONG (Pengetahuan menolong kita untuk tetap berdiri)
Pengetahuan yang kita miliki bukan hanya membantu kita memulai (to start), membantu kita bertindak (to do), tapi membantu kita untuk bertahan (to sustain). Ketika kita mengerti bahwa apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar, maka tidak peduli apapun yang terjadi maka kita akan terus bertahan, karena kita tahu satu kali nanti di balik setiap kebenaran pasti ada kemenangan!

DIA BERSERU LEBIH KERAS

Hal kedua yang dilakukan Bartimeus adalah dia berseru lebih keras.

Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!”
Lukas 18:39

Pengetahuan yang benar sekalipun apabila tidak disertai dengan semangat, maka semuanya itu hanyalah omongan kosong belaka; tetapi semangat tanpa disertai dengan pengetahuan, maka itupun hanyalah sebuah kenekatan yang satu kali akan membuat kita jatuh dan gagal. Pengetahuan yang benar harus disertai dengan semangat barulah akan menjadi tindakan.

Orang buta ini sudah baik memiliki sebuah pengetahuan yang lebih banyak, tapi tanpa tekad, tanpa semangat, tanpa gairah, maka realita kehidupan akan menggilas dia hidup-hidup. Hidup ini keras, hidup ini tidak adil, ada banyak orang yang tega untuk membalas kebaikan dengan kejahatan. Tetapi ketika kita menghadapi orang berbuat jahat kepada kita, janganlah membalas dengan balik memperlakukan orang tersebut dengan jahat, tetapi balaslah dengan semangat melalukan kebaikan! Orang banyak memperlakukan Bartimeus dengan kejam, dengan jahat, tetapi dia membalas perlakuan mereka yang kejam dengan kebaikan yang disertai semangat.

Kekurangan terbesar dalam meraih keberhasilan dalam hidup ini bukanlah kurangnya pengetahuan, tapi kurangnya kemauan. Bukannya tidak ada jalan, tetapi kitalah yang tidak punya keberanian untuk menjalani. Semangat! Bukankah “hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah keringkan tulang”? Ketika hinaan datang, tetap semangat! Ketika kita harus mencicipi kegagalan, tetap semangat! Bukankah “tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangkit kembali”? (Amsal 24:16). Apa yang membuat mereka bisa bangkit kembali? Semangat!!! Sebab mereka percaya mereka memiliki Tuhan yang tidak pernah membiarkan mereka untuk tetap tergeletak.

“Men are anxious to improve their circumstances, but are unwilling to improve themselves; they thereforre remain bound.” (Manusia sangat ingin untuk mengubah keadaan mereka menjadi lebih baik, tetapi tidak pernah punya keinginan untuk mengubah dirinya sendiri; itulah sebabnya mereka tetap terpenjara)
James Allen

DIA PERCAYA DENGAN LEBIH BAIK

Hanya dalam satu kisah ini kita akan menemukan bahwa Bartimeus memanggil Yesus dengan tiga julukan: Satu, dia memanggil Yesus “Anak Daud” (ay. 38, 39). Kedua, dia memanggil Yesus “Tuhan” (ay. 41), dan yang terakhir dia memanggil Yesus “Allah” (ay. 43). Saya ingin mengajak Anda untuk melihat perbedaan kita sebutan ini bukan secara teologis, tetapi justru ingin membuat Anda melihat apa yang orang buta ini bawa kepada Yesus ketika dia memanggil Yesus dengan sebutan-sebutan itu. Perhatikan baik-baik, ketika dia memanggil “Anak Daud” yang dibawa orang buta itu adalah KEBUTUHAN-nya. Kemudian, ketika dia memanggil Yesus “Tuhan” maka yang dibawa oleh orang itu adalah IMAN-nya. Terakhir ketika dia memanggil Yesus “Allah” maka yang dibawa adalah “PUJIAN atau UCAPAN SYUKUR”

Ada sebuah peningkatan dari setiap tahapan tersebut: dari berfokus pada kebutuhan – kemudian berfokus pada iman-nya – terakhir dia datang dengan pujian, berfokus pada Tuhan.
SAYA BUTUH : “Tuhan baik, KALAU Dia memenuhi kebutuhan hidup saya.” Fokusnya pada diri sendiri, pada kebutuhan saya.
SAYA PERCAYA : “Kebutuhan hidup saya pasti terpenuhi SEBAB Tuhan memang baik.” Fokusnya pada iman saya, jadi fokusnya soal bagaimana kita punya solusi.
SAYA MEMUJI : “Tuhan baik!” t-i-t-i-k! Tidak ada embel-embel apapun juga. Fokusnya ada pada Tuhan, tidak peduli apapun yang terjadi dalam hidup saya, Tuhan tetap dimuliakan.

Seringkali ketika kita menjalani kehidupan kita dikendalikan oleh kebutuhan atau keadaan kita, circumstances driven life. Kita menginginkan perubahan karena terpaksa oleh keadaan. Tapi perlu yang kedua, kita ingin hidup yang lebih baik sebab kita percaya bahwa Tuhan mau kita punya hidup yang lebih baik, faith driven life. Kita berubah bukan karena terpaksa tapi karena kita percaya! Tapi ada level yang terakhir, kita ingin hidup yang lebih baik, sebab hidup ini akan menjadi pujian yang mempermuliakan Tuhan, glory driven life. Dimana kita melihat bahwa hidup ini adalah alat untuk menceritakan kebaikan dan kebesaran Dia, Pribadi yang Agung. Kebenaran bukan lagi sebuah keyakinan semata tetapi menjadi sebuah gaya hidup, sebuah life-style. Lihatlah bagaimana puji-pujian Bartimeus, mempengaruhi orang banyak untuk memuji Tuhan. Hidup yang berubah adalah hidup yang menginspirasi dan juga mempengaruhi orang lain untuk living a better life.

Salam Kehidupan!

Word Of Faith


(Prinsip-Prinsip Mengenai Perkataan)

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Yesaya 55:10, 11

MENGAPA PERKATAAN MANUSIA SANGAT PENTING?

Perkataan menjadi sesuatu yang sangat penting, sebab perkataan manusia memiliki tujuan.

Manusia satu-satunya makhluk bumi ini yang memiliki kemampuan untuk berbahasa dan kecerdasan berkata-kata lebih daripada makhluk lainnya.

Kemuliaan manusia dinyatakan bukan hanya dalam karya, tetapi dalam perkataan. Buktinya manusia (Adam) memiliki hak bahkan untuk menamai binatang-binatang ciptaan Tuhan menurut bahasanya dan bukan bahasa binatang tersebut. (Kejadian 2:19)

Kalau perkataan memiliki tujuan, apa tujuan dari perkataan itu? Apa KUASA dari perkataan itu yang sesungguhnya?

1. To CREATE Something (Menciptakan)

Tujuan pertama dari sebuah perkataan adalah untuk MENCIPTAKAN.

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.

Kejadian 1:3

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Yohanes 1:1-3

Bahkan itulah sebabnya manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan (Invent) dan berkreasi (create-ivity), sebab manusia memiliki kemampuan dalam berbahasa. Peristiwa “Menara Babel” dengan jelas menegaskan hal ini,

dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana

Kejadian 11:6

Perkataan adalah “saluran” (channel) untuk melepaskan kuasa penciptaan, yaitu: IMAN. Faith created by Word, releases by words. Iman diciptakan dengan perkataan (Firman), dan juga dilepaskan dengan perkataan!

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Roma 10:17

Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

Matius 17:20

Jelas sekali betapa Perkataan Tuhan akan membentuk keyakinan dan cara pandang kita, tetapi keyakinan hanya akan memberi dampak ketika keyakinan itu diproklamasikan. Itulah sebabnya setiap negara yang merdeka harus memiliki Deklarasi atau Proklamasi Kemerdekaan, tanpa itu sekalipun tidak ada penjajah, negara tersebut tidak bisa merdeka.

What we believe in our hearts, we must declare with our lips, because confession is possession… Christians must be established in The Word, because outlook determines outcome. Word based outlook produces divine outcome.

(Apa yang kita yakini di dalam hati, harus dinyatakan dengan mulut kita, sebab kita hanya akan mengakui apa yang kita miliki… Orang Kristen harus tertanam dalam Firman, sebab cara pandang kita menentukan hasil yang kita terima! Cara pandang yang berdasarkan Firman akan menghasilkan hasil yang bersifat Illahi)

Robert Mawire

 

2. To COMMUNICATE with somebody (Mengkomunikasikan)

Perkataan juga berfungsi untuk membangun sebuah hubungan atau relasi.

Dan dalam membangun hubungan-Nya dengan manusia, Tuhan mengkomunikasikan 3 hal yang sangat penting baik dalam membangun kemampuan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan, tapi juga dalam menunjukkan apa yang Tuhan kehendaki ketika Dia menciptakan manusia.

  1. Dalam sebuah hubungan kita perlu mengkomunikasikan  TUJUAN (purpose and dreams). Kejadian 1:26
  2. Dalam sebuah hubungan kita perlu mengkomunikasikan KASIH (love and blessing). Kejadian 1:28
  3. Dalam sebuah hubungan kita perlu mengkomunikasikan ATURAN (law and order). Kejadian 1:29

Ketika kita bisa mengkomunikasikan salah-satu dari ketiga hal ini dengan jelas, maka kita akan menggerakkan banyak orang, memaksimalkan kehidupan, memulai perubahan.

The quality of your life is the quality of your communication, both with yourself and others. (Kualitas kehidupan kita adalah hasil dari kualitas komunikasi kita, apa yang kita katakan baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain.)

Anthony Robins

Les Brown menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana sebuah perkataan yang dikomunikasikan kepada orang lain menghasilkan dampak yang sangat luar biasa,

It’s an honor to be able to speak to people, to touch people’s lives. You have the opportunity to change lives and influence people and their decisions about themselves, their future, and their environment. Take that seriously and accept it as a blessing and commit yourself to giving them the best that you have.

(Merupakan suatu kehormatan untuk bisa berbicara kepada banyak orang, menyentuh hidup orang-orang tersebut. Anda memiliki kesempatan untuk mengubahkan kehidupan orang lain dan memberikan dampak dalam hidup mereka, keputusan-keputusan yang mereka buat mengenai dirinya sendiri, tentang masa depan, dan lingkungan sekitar mereka. Anda harus menganggap serius setiap komunikasi Anda dengan orang lain, terimalah itu sebagai sebuah berkat dan komitmen-kan diri Anda untuk memberi yang terbaik dari yang Anda miliki.) 

 

3. To CHANGE someone (Mengubahkan)

Perkataan memiliki kuasa untuk mengubahkan. Sebagaimana DOA adalah sebuah percakapan dengan Tuhan, dan dalam doa kalaupun ada sesuatu yang berubah maka yang berubah bukanlah keadaan, melainkan diri sang pendoa.

Demikian juga perkataan yang kita ucapkan akan selalu mengubahkan orang,

dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Yohanes 8:32

Perkataan dapat membawa kita menjadi orang yang merdeka, perkataan yang sama dapat membawa kita menjadi orang yang tertawan. Perkataan membuat kita sadar, untuk mengevaluasi diri kita sendiri. Perkataan membuat kita melihat arah ke depan, untuk membuat kita mampu menatap masa depan. Perkataan mengubahkan hidup seseorang.

Manusia diciptakan oleh Sang Firman…

Manusia digerakkan oleh perkataan…

Manusia dinilai dari perkataannya…

Perkataan membentuk sejarah…

Perkataan dapat membawa cinta…

Harapan…

… dan Iman

Dapat menguatkan hati yang lemah…

Dapat memberikan keberanian untuk berdiri…

… Memberi alasan untuk percaya

Itulah, WORDS OF FAITH (Perkataan Iman)